MENGGAGAS FIQIH MUHAMMADIYAH


Pada sebuah Rapat Pimpinan Cabang Muhammadiyah di daerah pantura Jawa Timur, tiba-tiba ada seorang peserta menyampaikan usulan menarik. la mengusulkan, agar Muhammadiyah -melalui Majelis Tarjih dan Tajdid bekerja sama dengan Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah— menyusun (buku) Fiqih Muhammadiyah. Buku tersebut dimaksudkan untuk menjadi pegangan bagi siswa dan guru di lingkungan lembaga pendidikan Muhammadiyah, juga warga yang ingin memelajari dan menjalankan agama sesuai paham yang dianut Muhammadiyah.

Fiqih, dalam khazanah Islam, dipahami sebagai ilmu tentang hukum-hukum Islam yang secara umum menyangkut ketentuan tentang tata cara ibadah seperti thaharah, salat, puasa, zakat dan haji. Selain itu, ia juga berisikan prinsip-prinsip kehidupan keluarga, sosial; ekonomi, hukum, bahkan politik menurut Islam.

Begitu eratnya fiqih dengan praktik hidup seorang Muslim, sehingga ia sering dianggap sebagai “pedoman hidup” bagi Muslim. Padahal, di samping fiqih, ada juga ilmu lain yang menjadi bagian integral dari ajaran Islam, yakni ilmu akidah yang mengajarkan prinsip-prinsip keyakinan dan ilmu akhlak yang mengajarkan budi pekerti luhur. Secara historis,istilah fiqih pada mulanya juga ditujukan untuk keseluruhan wawasan dan pemahaman tentang Islam. Di lingkungan lembaga pendidikan Muhammadiyah, fiqih termuat dalam pelajaran Al-Islam atau Ismuba (Al-Islam, Ke-Muhammadiyahan, dan Bahasa Arab).

Pedoman Umat

Sebagai organisasi keagamaan, Muhammadiyah memang selayaknya mempunyai Fiqih. Sejak didirikar oleh KH Ahmad Dahlan tahun 1912, Muhammadiyah adalah organisasi dakwah yang misi utamanya adalah membina umat agar menjadi Muslim yang baik, yang taat menjalankan agama sesuai ajaran Allah SwT dan Rasulullah saw. Oleh sebab itu, sudah tepat jika persyarikatan ini memiliki panduan atau pedoman beragama untuk segenap jamaahnya. Adanya fiqih Muhammadiyah diharapkan akan membantu warganya untuk bisa memahami dan menjalankan agama sesuai paham yang dianut Muhammadiyah, juga menjaga kesinambungan cita-cita, pandangan, dan misi perjuangan Muhammadiyah.

Jika dibandingkan dengan organisasi lain, harus diakui, Muhammadiyah — dalam hal ini— memang tidak sesolid Nahdlatul Ulama. Organisasi terakhir ini bahkan memiliki tradisi keagamaan yang relatif kuat dengan referensi keagamaan yang baku, bahkan dengan cara pewarisan yang ketat. Dalam bidang fiqih, misalnya, mereka memiliki buku-buku — yang dikenal dengan sebutan kitab kuning— seperti Path al-Qarib, Path al-Mu’in, Fanah at-Thalibin, Ihya Ulumuddin dan sebagainya. Belum lagi dalam bidang tafsir, tasawuf, dan sebagainya. Pewarisannya pun dilakukan secara bervariasi melalui berbagai wahana: pendidikan sekolah/madrasah, pesantren, forum pengajian, majlis taklim, majlis dzikir, dan sebagainya. Doktrin keagamaan mereka sangat jelas: bermazhab Syafi’i dalam fiqih, Asy’ari dan Maturidi dalam akidah, dan Imam Ghazali dalam tasawuf.

Doktrin keagamaan Muhammadiyah termaktub dalam Himpunan Tarjih Muhammadiyah. Himpunan ini merupakan pendapat Muhammadiyah mengenai berbagai persoalan keagamaan dan kemasyarakatan yang muncul di tengah masyarakat. Himpunan ini, dalam praktiknya, telah menjadi rujukan warga Muhammadiyah dalam mengimplementasikan ajaran agama sesuai paham yang dianut Muhammadiyah. Sayangnya, himpunan ini belum terkodifikasikan dengan baik, di samping sosialisasinya yang kurang maksimal di kalangan warganya. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika tak semua warga Muhammadiyah secara konsisten memegang teguh putusan-putusan tarjih tersebut. Alih-alih memegang teguh, tahu pun terkadang tidak. Akibatnya, praktik keagamaan di tingkat akar rumput warga Muhammadiyah cenderung menunjukkan variasi yang beragam.

Sebuah penelitian yang dilakukan Abdul Munir Mulkhan untuk disertasi doktornya Gerakan Pemurnian Islam di Pedesaan (Kasus Muhammadiyah) menunjukkan temuan yang mengejutkan: bahwa tidak seperti yang diduga selama ini, Muhammadiyah ternyata bukanlah entitas yang homogen. Ada empat varian anggota Muhammadiyah menurut temuannya. Pertama, kelompok Mukhlisun (Islam murni yang puritan); kedua, kelompok Kiai Dahlan (Islam murni tapi toleran terhadap praktik TBC (takhayul, bid’ah, dan khurafat) yang dilakukan kelompok lain; ketiga, kelompok Manu (Muhammadiyah-NU atau neotradisionalis); dan keempat, kelompok Munas (Muhammadiyah nasionalis) atau Marmud (Marhaenis-Muhammadiyah).

Berdasarkan klasifikasi tersebut, anggota Muharnmadiyah itu secara teologis, sosiologis, dan politis sangatlah heterogen. Hajriyanto T. Tohari dalam Muhammadiyah dan Pergulatan Politik Islam Modernis (2005) memberikan contoh bahwa Bung Karno itu orang Muhammadiyah asli. Bukan hanya karena ia menantu Konsul Muhammadiyah Sumatera Bagian Selatan di Bengkulu, melainkan juga pernah memimpin Majelis Pengajaran pada Konsul Muhammadiyah setempat. Namun, secara politis dan ideologis, ia beraliran nasionalis dan marhaenis. Jadi, Bung Karno itu, menurut kategori Mulkhan, termasuk Marmud atau Mimas. Demikian juga Pak Harto, mantan Presiden RI kedua itu. Beliau adalah bibit tulen Muhammadiyah, karena dia adalah lulusan HIS Muhammadiyah. Namun, bahwa ia ternyata beraroma kejawen, itu menunjukkan bahwa beliau termasuk kelompok Muwen (Muhammadiyah Kejawen).
Mempertegas Misi Dakwah

Temuan Dr. Abdul Munir Mulkhan setidaknya perlu menjadi renungan bagi Muhammadiyah: sudahkan gerakan dakwah yang dilakukan Muhammadiyah selama ini memenuhi standar yang diharapkan sesuai visi dan misi yang dicanangkan – baik pada tataran doktrin yang tercermin pada putusan-putusan Tarjihnya maupun tataran aksi yang tercermin pada sikap, perilaku dan amalan warga Muhammadiyah?

Putusan Tarjih Muhammadidyah merupakan hasil “ijtihad” yang dilakukan persyarikatan ini mengenai berbagai persoalan yang muncul di tengah masyarakat yang memerlukan fatwa keagamaan. Setiap masalah coba dilihat dengan kacamata Muhammadiyah, lalu diambil putusan yang dianggap paling tepat untuk dipedomani warganya. Untuk itu, sebuah majelis dibentuk guna membidangi masalah tersebut, yakni Majelis Tarjih dan Tajdid, sebuah nama yang sangat kental berkonotasi ijtihad. Persoalannya, sudahkah “ijtihad” yang dilakukan Muhammadiyah memberikan jawaban tuntas terhadap kebutuhan spiritual dan kultural warganya, juga tuntutan zamannya?

Dalam kenyataan, selain produktivitasnya dinilai kurang, Muhammadiyah juga terkesan kekurangan stamina dalam menjalankan tugas ini. Harus diakui, Muhammadiyah memang kaya cendekiawan, namun kurang memiliki stok ulama (syari’ah). Dengan kata lain, sumberdaya yang dibutuhkan untuk melaksanakan “ijtihad” terasa kurang. Padahal, untuk berijtihad, landasan yang kokoh di bidang ilmu syari’at merupakan syarat yang tidak bisa ditawar. Ijtihad yang dilakukan dengan kualitas sumberdaya yang tidak mumpuni atau tidak memadai dikhawatirkan akan menghasilkan produk ijtihad yang berkualitas rendah, dangkal, atau malah-malah liar.

Sementara itu, pada tataran kademas, pendidikan di sekolah-sekolah Muhammadiyah cenderung diorientasikan untuk meraih prestasi di bidang ilmu-ilmu keduniaan dengan bobot yang kurang maksimal dalam pendidikan agama dan bahasa Arab. Akibatnya, banyak siswa Muhammadiyah yang kurang memiliki wawasan yang cukup mengenai kedua pelajaran tersebut. Jangankan membaca kitab-kitab referensi keagamaan yang mayoritas berbahasa Arab, untuk membaca Al-Qur’an saja terkadang pas-pasan. Sementara itu, sikap dan perilaku siswa Muhammadiyah juga sering dinilai tak jauh berbeda dengan siswa sekolah-sekolah umum pada umumnya. Yang membedakan hanya seragamnya. Karena itu, jika kondisi ini terus berlanjut, dikhawatirkan anak-anak Muhammadiyah akan menjadi “asing” di negeri sendiri.

Oleh karena itu, semangat untuk belajar dan mengamalkan agama perlu lebih digalakkan di kalangan generasi muda Muhammadiyah. Berakidah yang benar, beribadah yang baik dan benar, berakhlak karimah dalam praktik kehidupan sehari-hari, dan ber-amar ma’ruf nahi munkar yang tiada henti merupakan ciri gerakan Muhammadiyah yang harus selalu diperkokoh. Ketika unsur-unsur ini mulai mengendur, maka Muhammadiyah akan kehilangan unsur penting jati dirinya.

Karena itu, ada baiknya jika ke depan Muhammadiyah memberikan perhatian yang lebih pada beberapa hal berikut. Pertama, lebih memperkokoh pendidikan agama di lingkungan lembaga-lembaga pendidikannya. Kedua, memantapkan pendidikan kader ulama di lembaga-lembaga yang diproyeksikan ke arah itu. Ketiga, menyekolahkan kader-kader Muhammadiyah ke lembaga-lembaga luar negeri, utamanya Timur Tengah, jika sasaran utamanya adalah penguasaan ilmu syari’ah. Keempat, menyusun Fiqih Muhammadiyah secara lebih komprehensif sehingga bisa menjadi pedoman bagi warganya.

Jika harus disusun, Fiqih Muhammadiyah memang tidak boleh digarap asal-asalan. la harus cerdas dan tidak mengajak warganya untuk berpikiran sempit. la harus menghindari terulangnya episode kelabu sejarah masa lalu di mana terjadi ketegangan yang tidak perlu antara warga Muhammadiyah di satu pihak dan kelompok lain di pihak lain gara-gara masalah khilafiyah-furu’iyah. Fiqih Muhammadiyah harus mengajak warganya untuk cerdas dalam beragama namun bijak dalam menghadapi perbedaan pendapat. Visi pembaruan Muhammadiyah di bidang sosial, ekonomi, dan budaya juga perlu dituangkan di dalamnya untuk dapat mencerahkan warganya secara spiritual, moral, intelektual dan amal.
Memang istilah fiqih Muhammadiyah terkesan agak provokatif, seolah Muhammadiyah itu madzhab atau aliran tertentu. Padahal, ia sesungguhnya tak lebih dari organisasi dakwah yang mengikuti jejak generasi-generasi Muslim terdahulu. Kapasitas Muhammadiyah di bidang agama tak lebih dari muttabi’ (pengikut madzhab yang ada), dan bukan mujtahid (penyimpul hukum agama sehingga melahirkan pendapat atau madzhab baru). la bukan pula mubtadi’ (pembuat ajaran baru dalam agama). Ulama sekaliber Ibnu Taimiyah, Muhammad bin Abdul Wahab atau Muhammad Abduh pun tidak pernah menyebut diri mereka membawa madzhab baru, meski banyak orang yang tidak meragukan kapasitas keulamaan mereka. Apa pun namanya, mudah-mudahan Muhammadiyah di masa depan akan menjadi lebih baik tanpa kehilangan jati dirinya.

Wallahu a‘lam…

Oleh: Agus Salim Syukran
Dosen STIT (Sekolah Tinggi llmu Tarbiyah) Muhammadiyah Paciran
dan Ketua Majelis Dikdasmen PCM Paciran Lamongan.

sumber: Suara Muhammadiyah

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: