"DUGEM"(Dakwah Untuk GEnerasi Muda): Jilbab Gaul, boleh ngga sich ?

Assalamu’alaikum wr. wb

Alhamdulillah , segala puji bagi Allah SWT, yang dengan rahmat-Nya lah “DUGEM” edisi kedua ini dapat terbit. Sebelumnya saya mohon maaf karena terbitnya “DUGEM” edisi kedua ini mengalami keterlambatan, soalnya beberapa minggu ini saya sangat sibuk. Daripada terus berbasa-basi ria, lebih baik kita mulai saja “DUGEM” edisi kedua ini.
Saat ini ada kabar yang sangat menggembirakan, karena banyak muslimah, terutama remaja putri menggunakan jilbab. Diantara mereka ada yang menggunakan jilbab yang sempurna, tapi ada juga yang hanya menggunakan jilbab gaul.
Jilbab yang mereka gunakan adalah jilbab yang meniru jilbab yang digunakan oleh para artis. Seperti mode jilbab Ineke, kudung mbak Tutut, Surban Hugher dan Trie Utami. Apakah cara berkudung mereka sudah benar ?, dan bagaimana cara memakai jilbab yang benar ?
Setiap muslimah yang sudah baligh, diwajibkan untuk menutup auratnya, sebagaimana Hadist Rasulullah yang diriwayatkan oleh Aisyah r.a. Disebutkan bahwa, Asma’ binti Abu Bakar pernah masuk ke ruangan Nabi dengan menggunakan pakaian yang tipis. Nabi lantas bersabda: “Asma’, sesungguhnya seorang wanita itu, jika telah baligh (mengalami haid), tidak pantas untuk menampakkan tubuhnya, kecuali ini dan ini (sambil menunjukan wajah dan pergelangan tangannya).”
Itu masalah menutup aurat, sedangkan jenis busananya Islam juga udah ngatur lho, seperti firman Allah SWT :
“Katakanlah kepada wanita yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya, serta janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa tampak pada dirinya. Hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke seputar dadanya…”(QS an-Nur:31).
Yang dimaksud dengan perhiasan adalah seluruh tubuh wanita, terkecuali muka dan kedua telapak tangan. Dari ayat itu juga sudah tegas dijelaskan bahwa tiap muslimah wajib memakai kerudung ketika berhadapan dengan yang bukan muhrimnya. Selain itu, dalam memakai kerudungnya harus diulurkan ke dada, jadi bukan seperti kudung gaul yang diikat ke leher atau kudung kecil yang hanya menutupi rambut. Jadi apabila masih menggunakan kudung gaul ya tetap saja dosa, karena melanggar prosedur pemakaiannya.
Oleh karena itu, saya menjadi kasihan dengan para muslimah yang sudah mau berkerudung, tapi makainya masih nanggung, nggak kaffah. Ini menjadi cerminan bahwa hatinya masih gamang, di satu sisi ingin taat dengan Allah, dan di sisi lain ingin tetap gaul. Keraguan itu hanya akan membuat hati tidak tenang.
Terakhir, sebelum kebablasan, kita mau ngasih warning, bahwa kerudung atau jilbab adalah cerminan ketakwaan pada Allah, bukan menjadi alat tebar pesona di depan umum. So, berpakaianlah sewajarnya. ( Artikel ini saya ambil dari OASIS edisi No. 3/Th.I/31 Mei 2004 dengan saya rubah seperlunya )

Wassalamu’alaikum wr. wb

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: