Dr. Daud Rasyid: Diasingkan Karena Bela Prinsip-Prinsip Islam


Author: eramoslem
Sudah menjadi sunnatullah dalam berdakwah, setiap da’i yang melawan kebatilan akan mendapat ujian-ujian maupun fitnah-fitnah. Adalah doktor Daud Rasyid, jebolan Universitas Kairo, Mesir, yang dideportasi oleh pihak Institut Agama Islam Negeri (IAIN, sekarang UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta ke IAIN Sunan Gunung Djati, Bandung. Padahal sesuai dengan permintaan Direktur Program Pascasarjana (PPs) IAIN Jakarta Prof. Harun Nasution saat itu, Daud diminta memberi kuliah di kampus yang terletak di bilangan Ciputat, Tengerang itu.

Melawan Liberalisme di Kampus

“Secara logika tidak pas. Karena menurut rencana semula, yang mendorong saya untuk menjadi PNS itu almarhum Prof. Harun. Karena tenaga saya dibutuhkan di IAIN Jakarta,” ujarnya.

Akibat peristiwa ini, Prof. Dr. Harun Nasution, yang juga dikenal sebagai pembawa dan penyebar aliran Mu’tazilah ke Indonesia, khususnya di dunia perguruan tinggi, merasa terkejut dengan peristiwa itu. “Beliau sendiri bingung dan kaget dengan kejadian itu. Kerjaan siapa ini?” sambungnya.

Maklum saja. Dalam pandangan Harun, Daud Rasyid adalah tenaga pengajar “langka” saat itu. Alasannya, IAIN sangat membutuhkan doktor ahli hadis untuk mengajar di program pascasarjana. Karena itulah, ketika mendengar Daud Rasyid pulang ke Indonesia, Harun pun memintanya mengisi mata kuliah Ilmu Hadis.

Menurutnya, pembuangan dirinya ke IAIN Bandung bukanlah hal yang tiba-tiba. Tapi, jauh-jauh hari sudah didesain oleh petinggi IAIN saat itu. “Ini bukan tanpa rencana, tapi sengaja,” katanya.

Waktu pun terus berjalan. Selama tiga tahun menjadi dosen di IAIN Jakarta, selama itu pula ayah tujuh anak ini mendapat serangan balik dan “teror” dari sejumlah dosen dan petinggi IAIN yang tak senang dengan pemikiran dan gerakan Daud Rasyid. “Terutama dari sarjana lulusan Barat atau AS,” paparnya.

Ia menuturkan, keberadaan Daud Rasyid rupanya telah membuat sebagian alumni Barat/AS gerah dan gundah. “Program pembaratan mereka di IAIN terganggu dengan keberadaan saya. Selama mengajar di sana saya melihat memang terjadi pertarungan pemikiran antara kelompok Barat, yang meliberalkan pemikiran Islam. Itu saya hadapi di perkuliahan,” terangnya.
Celakanya, ada pihak-pihak yang mengadu-domba antara Harun Nasution dengan Daud Rasyid. Maksudnya, agar mantan rektor IAIN Jakarta itu tak simpatik lagi dengan laki-laki kelahiran Tanjung Balai, Sumatera Utara ini. Tapi, syukurnya Harun tak terpengaruh dengan wacana dan ulah nakal itu.

Namun, di usianya yang semakin uzur, tak lama kemudian Harun mundur dari jabatan direktur PPs, usaha mendeportasi Daud Rasyid ke IAIN Bandung terlaksana. Daud Rasyid menjelaskan, kondisi Harun yang melemah itulah yang mereka manfaatkan. “Karena sejak Pak Harun tak lagi memimpin PPs, langkah mereka lebih leluasa. Sebelumnya mereka sungkan dengan Prof. Harun,” ungkap alumnus IAIN Sumut ini.

“Mereka kadang mendorong mahasiswa untuk protes ke Pak Harun. Artinya keberadaan saya tak nyaman bagi mereka. Ketika Prof. Harun ketemu dengan saya, itu juga disampaikannya ke saya. Ada sekelompok orang yang mendatangi dia melaporkan tentang saya. Maka saya tahu. Saya itu tak akan dibiarkan leluasa menyampaikan tentang pemikiran Islam yang lurus. Mereka lalu menunggu titik limitnya ketika Prof. Harun meninggal dunia,” sambung Daud.

Sejak itu, aktivitas mengajar suami dari Iskamaliati di PPs IAIN Jakarta dipangkas habis. “Satu mata kuliah pun saya tak diberi,” katanya. Selain dihabisi gerakannya di PPs, ia juga sering dikucilkan. Tapi bagi Daud, tidak jadi masalah, dakwah membasmi virus liberalisme dan sekularisme di perguruan tinggi adalah mulia dan harus dilaksanakan.

Setelah peristiwa ini, sejumlah dosen dan pihak di-cross- chek. Ada yang mengatakan tak tahu- menahu masalah itu. Tapi ada juga yang menyebutkan bahwa pemberhentian paksa dilakukan atas kebijakan rektorat, yang kala itu dipimpin Azyumardi Azra.

Mendengar jawaban yang berbeda-beda itu, Daud Rasyid pun lantas menelusuri “sanad” kasus ini. Selidik punya selidik rupanya di balik semua rekayasa tak fair itu adalah rektor sendiri, yakni, Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA. “Ya, dia itu. Dia adalah otaknya, yang ingin menyingkirkan saya dari IAIN Ciputat,” urainya.

Ia menilai, langkah para liberalis itu adalah sikap yang tidak jujur. “Mereka tak dewasa. Apa yang mereka gembar-gemborkan mengenai dialog dan berbeda pendapat, semuanya itu bohong. Itu cuma di mulut saja. Mereka itu adalah diktator. Kalau disuruh memimpin negeri ini, wah kacau negeri ini,” jelasnya.

Daud Rasyid mengungkapkan, sebenarnya tak semua mahasiswanya alergi dengan gagasan yang dibawanya. Sebab, dari ceramah, diskusi dan ide-idenya itulah para mahasiswa/i PPs tahu mana pemikiran Islami dan mana yang bukan. “Ada mahasiswa yang mengatakan, setelah Pak Daud di sini pemikiran Barat tidak menghegemoni pemikiran kita,” katanya mengutip pernyataan mahasiswa(i)nya.

Dengan larangan mengajar di PPs IAIN Jakarta, maka secara otomatis pula, Daud Rasyid tak bisa mengajar di program strata satu (S1). Pasalnya, ia harus hijrah ke IAIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Sebagai orang yang biasa hidup dalam pertarungan pemikiran, Daud tak pernah takut untuk menghadapi model pemikiran apapun. Maklum saja, selain fasih berbicara tentang Islam, dosen PPs Ibnu Khaldun ini juga mengusai pemikiran Barat.

Karena itu, ketika ia diasingkan ke IAIN Bandung, baginya masalah itu adalah hal yang biasa. Ketika awal masuk IAIN Bandung, sekitar satu tahunan ia masih diberi kesempatan untuk mengajar di PPs IAIN Bandung.

Namun setelah, direktur PPs-nya tahu ‘bahaya’ Daud Rasyid bagi gelombang dan arus pembaratan di kampus tersebut, akhirnya ia juga mengalami nasib serupa. Tapi, kali ini tak separah di Jakarta. “Di sini saya masih diberi kesempatan mengajar S1. Rektornya mendukung. Direkturnya saja yang takut dengan keberadaan saya,” ujarnya.

“Tapi, sambungnya, secara umum kondisinya sama. Mereka sudah dikuasai oleh pemikiran Barat. Anehnya, mereka belajar Islam, tapi rata-rata pengetahuan Islam dan bahasa Arabnya rendah,” tambahnya.

Ke Mesir, Taubat dari Pemikiran Liberal-Sekular

Semula, aku Daud, dirinya termasuk mahasiswa yang gandrung dengan pemikiran tokoh-tokoh liberalis-sekularis. Sebut saja, misalnya, pemikiran almarhum Nurcholis Madjid, alias Cak Nur. “Iya, saya pernah mengagumi pemikiran Cak Nur. Buku-bukunya saya baca,” katanya.

Dijelaskannya, dirinya sempat menjadi peminat pemikiran liberalis-sekularis lantaran saat menjadi mahasiswa Fakultas Syari’ah IAIN Sumatera Utara (Sumut), Daud adalah aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). “Dulu, yang namanya anak HMI pasti membaca buku-buku Cak Nur,” akunya.

Namun, episode ini tak berlangsung lama. Setelah lulus dari IAIN Sumut, Daud lantas hijrah ke Mesir. Di negeri Sungai Nil inilah, ia mengalami perubahan paradigma secara drastis. Melalui kegiatan membaca karya-karya tokoh-tokoh sekular dan tokoh-tokoh Islamis Mesir dan dunia Arab, pandangan Daud berbalik 180 derajat. Ia tahu dan sadar benar, ternyata pandangan hidup dan pemikiran sekular adalah keliru. Dari situlah Daud Rasyid mengikuti jejak Sayyid Qutb. Yakni, kritis terhadap pemikiran dan gaya hidup Barat.

“Saya baca buku-buku tokoh sekuler yang menjadi guru-guru mereka seperti Ali Abdul Raziq, Thaha Husein dan sebagainya,” paparnya. Selain itu, Daud, yang kutu buku sejak kecil juga melahap karya-karya tokoh-tokoh Islam seperti Al-Maududi, Sayyid Qutb dan lainnya. Tak hanya itu, ia juga berdialog langsung dengan tokoh dan pemikir dari berbagai kalangan di Mesir.

Cerdas dan Kritis

Banyak orang cerdas, tapi sedikit orang yang kritis terhadap masalah. Daud Rasyid kecil termasuk anak yang cerdas. Dari sekolah dasar (SD) sampai perguruan tinggi, belajarnya selalu double, alias di dua tempat. “Kebiasaan ini berlanjut sampai di perguruan tinggi,” ujar alumnus Fakultas Hukum Universitas Sumut (USU).

Menurutnya, belajar di dua tempat bukanlah hal yang berat. Karena itu, ia menikmatinya. Prestasinya selama belajar selalu gemilang. “Alhamdulillah saya juara satu terus,” kenangnya. Prestasi membanggakan, juga ia raih ketika menyelesaiakan program S2 dan S3 di Universitas Kairo. “Disertasi saya meraih predikat summa cumlaude,” terangnya.

Dituturkannya, ibunyalah yang mendorongnya untuk belajar tekun dan sungguh-sungguh. Karena itu pula, sejak usia SD ia sudah terbiasa membaca kitab kuning.

Inspirasi dari sang bundanya itu, kini ia wariskan kepada tujuh buah hatinya. Ia bersama istri tecintanya membiasakan anak-anaknya untuk dekat dengan Al-Qur’an. Karena itu pula membaca dan menghafal ayat-ayat Allah itu adalah menjadi kebiasaan keluarga ini.

Bagaimana hasilnya? sudah bisa ditebak. Putra-putri Daud Rasyid adalah para penghafal Al-Qur’an. “Sudah ada yang hafal 30 juz. Tapi baru satu orang, yang bungsu. Sekarang lagi kelas III Madrasah Aliyah,” imbuhnya.
==============
Beberapa waktu lalu, Ustad Daud Rasyid pernah menjadi nara sumber Embun Pagi di Indosiar. Membahas Kajian Hadits….! Seru banget…! Terasa sekali hitam putihnya sebuah hukum Islam. Sekarang Embun Pagi yang jadi nara sumber, Ustad Ahzami… membahas Tafsir al Quran, ini juga keren. Tapi kalo bisa sih, dua-duanya terus ada… biar berasa dapet ilmu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: