Di Sana Haram, Di Sini Haram


Industrialisasi kapitalisme yang menghalalkan segala cara dan berprinsip zero wasting menjadikan bahan haram yang sedikit menjadi fungsional

Hajjah Fulanah Muslimah kosmopolitan. Koleksi sepatunya impor bermerek Clarks, Hush Puppies, Beebug, dan Anyo. Dia sering lunch di Hanamasa. Jika membeli kue kering Lebaran, dia pilih yang toppingnya kuning telur dioles dengan kuas impor Bristle. Kalau batuk, dia minum syrup impor Coricidin produksi Schering-Plough. Untuk mencegah penggumpalan darah jantung, dia mengonsumsi Heparin.

Olala, ternyata produk-produk yang akrab dengan Haj-jah Fulanah itu bertabur haram. Sepatu dia berkulit babi. Ini bisa dikonfirmasi di: http://www.gmwa. org.uk/foodguide2/. Sedangkan gambarnya bisa dipelototi di: qa.sunnipath.com/issue_view.asp?HD=1&ID=2075&CATE=137.

Resto langganannya menyajikan menu Jepang, yang biasa menyediakan mirin (khamar). Kuas pengoles kuenya menggunakan bulu kuping babi. Demikian pula obat gangguan jantungnya, mengandung bahan dari babi. Sedangkan syrup batuknya beralkohol sampai 6,4 persen.

Padahal, Hajjah Fulanah sering mendengar firman Allah SWT dalam surat Al-Maidah ayat 88: ”Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepada-mu….”

Demikian juga firman-Nya: ”Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu” (Qs Al Baqarah: 172).

Sedikit Jadi Banyak

Sebenarnya, jenis barang yang diharamkan Islam sangatlah sedikit dibanding yang halal. Para ulama membuat kaidah: al-ashl fil asyâ’ al-ibahah hattâ yadullad dalîl ‘alâ tahrîmih. Segala sesuatu hukum asalnya (default) adalah halal kecuali ada dalil yang mengharamkannya.

Namun, melalui industrialisasi modern kapitalisme yang berazas al-ghoyah tubarrir al-washilah (tujuan menghalalkan cara) dan berprinsip zero wasting (sampah nol), yang sedikit itu justru menjadi sangat fungsional. Dalam bahasa lain, yang minoritas ini menjadi tirani bagi mayoritas.

Babi misalnya. Dalam kal-kulasi bisnis kapitalisme, nyaris semua bagian dari tubuh babi merupakan bahan produksi yang lebih efisien dan komersial. Misalnya sampah berupa kulit atau tulang babi, yang ternyata unggul digunakan dalam produksi gelatin.

Di dunia industri, gelatin merupakan sebuah ”miracle food” karena multifungsinya luar biasa dan tak tertandingi. Gelatin digunakan sebagai bahan pengisi, pengemulsi (emulsifier), pengikat, pengendap, dan pemerkaya gizi. Karakteristiknya yang lentur dapat membentuk lapisan tipis elastis, film transparan yang kuat, dan daya cernanya tinggi.

Bahan pangan yang mengandung gelatin memiliki sensasi istimewa ketika menyentuh lidah. Sifat melting in the mouth ini sampai sekarang tak tergantikan oleh bahan lain.

Nah, gelatin yang lebih efisien dan ekonomis adalah yang terbuat dari tulang atau kulit babi (Encyclopedia of Chemical Technology, 2nd ed, 1996).

Contoh lain penggunaan minuman keras atau beralkohol. IOFI (International Organisation of Flavour Industry) telah memberikan guideline kepada anggotanya dalam pembuatan perasa atau flavourings yang sangat ke-tat dalam penggunaan cairan mengandung alkohol atau etanol (IOFI Exp 76/8, 1995-02-20). Guideline ini merupakan aturan dasar dalam Good Manufacturing Practices untuk pembuatan perasa halal.

Aturan yang diterapkan dalam pembuatan perasa halal di antaranya: bahan dasar yang mengandung alkohol yang berasal dari proses fermentasi alkohol seperti cognac oil, fusel oil, tidak boleh digunakan.

Masalahnya, dari sebuah produk, secara kasat mata se-orang profesor biokimia sekalipun tidak dapat langsung menentukan keberadaan unsur babi dalam gelatin yang digunakannya. Misalnya, meskipun tekstur sebuah merk permen jelly itu lembut dan kenyal, tidak bisa langsung disimpulkan bahwa gelatinnya mengandung unsur babi.

Bahkan juga penelitian laboratorium pun tidak selalu bisa mendeteksi keberadaan unsur haram pada produk akhir. Misalnya, tidak akan lagi ditemukan kandungan alkohol pada sebuah merk minuman yang mengklaim ”zero alcohol”, meskipun ia dibuat dari bahan baku minuman keras.

Masih Sedikit

LPPOM MUI yang berdiri sejak 6 Januari 1989, mulai menerbitkan sertifikat halal pada 7 April 1994. Sampai 2006, baru menerbitkan sekitar 11.500 sertifikat halal (Aisjah Girindra, 2006).

Menurut polling situs astaga.com (2001), resto internasional paling mengena di lidah responden Indonesia nomor satu adalah resto masakan Cina. Tapi sampai hari ini, resto masakan Cina yang sudah bersertifikat halal hanya dua yaitu Restauran 499 dan Pagoda Restaurant (keduanya di Jawa Barat).

Pikiran Rakyat (25/6/04) melaporkan, dari sedikitnya 500 restoran dan katering di Jawa Barat, ternyata hanya 20 unit (4 persen) yang telah mengantongi sertifikat halal LPPOM MUI Jawa Barat.

Masih di Jawa Barat, dari 1 juta unit IKM (industri kecil dan menengah) sektor makanan dan minuman, obat-obatan, serta kosmetika di wilayah ini, sampai tahun 2005 baru 900 (0,09 persen) di antaranya yang telah mengantongi sertifikat halal. Menurut Dirut LPPOM MUI Jabar, HA Suryadi, angka tersebut masih kelewat rendah (www.bis-nis.com, 30/6/2005).

Sangat sedikitnya produk yang telah bersertifikat halal itu, berarti ancaman besar buat konsumen Muslim.

Memang tidak bisa begitu saja ditarik mafhum mukhalafah (konklusi resiprokal) bahwa de-ngan demikian jutaan produk pangan, obat, dan kosmetik di luar yang belum bersertifikat halal itu, otomatis berstatus ”haram”. Namun menurut Ketua Dewan Syariah Nasional KH Ma’ruf Amin, produk pangan olahan industri modern minimal berstatus ”syubhat” lantaran sangat rawan ternoda unsur-unsur haram. Misalnya unsur gelatin itu tadi.

Mengapa penjaminan sertifikasi halal belum lumrah di Negeri Muslim terbesar di dunia ini?

Menurut UU, sertifikasi halal tidak wajib (compulsary). Selain itu, pedagang banyak yang nakal. Pada Maret 2005, Sekretaris Umum MUI ketika itu Prof Din Syamsuddin mengungkapkan, banyak tempat makan yang mengklaim halal padahal belum disertifikasi halal. Ada juga opini tentang produk yang halal padahal ia haram.

Ditambah lagi, rendahnya keimanan, kepedulian, dan pengetahuan konsumen. Hajjah Fulanah tadi insya Allah Muslimah salihah. Tapi, dia kurang peduli dan pengetahuan, sehingga tanpa disadarinya akrab dengan bahan haram.[] taqiyuddin albaghdady

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: